Jumat, 04 November 2016

Note from Flores (3)

04-10-16

Menjadi Petualang di Pulau Komodo



Haha. Menjadi petualang apanya? Aku memang suka trekking mblusuk ke hutan, tapi nggak di nguber-uber komodo juga sih. Aku tahu juga, komodo kalau mau nyaplok itu juga pilih-pilih, dan aku bukan tipenya. Tapi ya serem aja, lha wong aku lihat cicak aja geli-geli ngeri, apalagi ini ada kadal kok panjangnya bisa sampai 2 meter.


Suka melet-melet, kulitnya bersisik kasar, kadang ada yang mengelupas karena bekas luka, warnanya hitam kusam seperti tanah. Persis seperti Godzilla. Melata jalan pelan, dan katanya kalau siap menerkam bisa lari kencang. Coba dong dia disuruh lomba lari marathon, dikasih umpan daging mentah segar dari jarak sejauh 9 km. Hih. Walaupun dia jalannya kayak putri Solo, tapi dia bisa memanjat pohon dan berenang. Nah, Tapi kalau suatu saat kamu dikejar komodo, larilah sekencang mungkin dengan gaya zigzag, karena dia cuma bisa lari lurus. Mungkin kalau dikejarnya di laut, renangnya juga harus zigzag. Separuh dari panjang badannya itu ekor. Katanya juga kalau kesabet, langsung bikin terkapar.

Eeknya juga bisa dijumpai di sepanjang trek. Semua bagian tubuh dia makan, termasuk tulang dan hanya meninggalkan rambut, mungkin karena seret. Nah, makanya warnanya ada yang putih karena bekas kalsium dari tulang mangsanya dan ada yang coklat yang aku lupa itu bekas bagian tubuh yang mana. Lalu kenapa aku jadi bahas eek komodo, karena ini adalah bagian dari “mencerdaskan kehidupan bangsa”.

Kata pak ranger, komodo ini makhluk introvert, tidak suka bergaul. Kumpul sesama komodo hanya untuk hangout makan, minum dan hmmmm kawin. Tapi waktu musim kawin, komodo jantan kumpulnya untuk bertarung berebut komodo betina. Kalau sudah dikawini di bulan Juli-Agustus –mungkin karena musim panas, jadi suasana menjadi panas–, komodo betina bertelur di bulan September. Sekali bertelur, bisa sampai 35 buah. Bayangkan, kalau semua telur menetas bersamaan dan bermain bersama. Serem apa geli? Yang jelas nggak ada lucu-lucunya sama sekali.

Tapi komodo itu binatang mandiri, sehabis merobek cangkang telur, bayi komodo langsung disuruh cari makan sendiri. Waktu masih dalam bentuk telur, ibu komodo memang selalu menjaganya sepenuh hati, dibuatkan sarang betulan dan palsu. Yang palsu ini untuk kamuflase saja, siapa tahu ada babi hutan yang lagi pengen buat telur orak-arik. Kalau datang predator, komodo kecil bersembunyi di pohon palem. Predatornya siapa lagi kalau bukan bapak sendiri. Eh, belum tentu, yang jelas komodo jantan dewasa yang sedang lapar. Mereka ini binatang kanibal kok. Waktu kecil, komodo makan serangga, reptil, dan mamalia kecil. Pokoknya yang ukuran tubuhnya tidak lebih besar dari badannya. Waktu besar, tidak perlu dipertanyakan, dia makan semua yang punya kaki, kecuali meja dan kursi.

Jumlah komodo di Pulau Komodo sekitar 400 ekor lebih banyak dibanding jumlah mereka di Pulau Rinca yang hanya sebanyak 1.300 ekor. Tapi jangan salah, katanya Komodo di Pulau Rinca lebih liar, soalnya mereka yang di Pulau Komodo disupplai makanan.

Selain melihat komodo, kami menjumpai banyak rusa. Aku baru tahu dari ranger kalau umur rusa jantan itu bisa dihitung dari jumlah cabang tanduknya. Burung berbagai warna dan ukuran jenis pun juga ada. Mereka beterbangan di antara rimbunnya pohon asem yang merupakan jenis tanaman terbanyak di sini. Anggrek pun ada, mereka bersimbiosis komensalisme dengan pepohonan yang diinanginya.


Sehabis kembali ke kapal dan makan siang, kami snorkelling di Pink Beach yang pemandangannya juga cantik. Kalau mau lihat, browsing di google saja, karena aku tak bawa kamera bawah air. Hehe. Pun karena arusnya kuat, aku tidak berlama-lama di air.

Aku duduk-duduk di pantai di bawah pohon waru yang rindang. Dan ngobrol dengan salah satu awak kapal yang ternyata lulusan sarjana pendidikan olahraga. Heran kan, sarjana memilih jadi awak kapal. Ya banyak juga yang seperti itu sih, apalagi kalau bukan karena gaji yang dia dapat sebagai guru honorer setelah dia lulus dari universitas di Lombok tidak layak. Gaji guru honorer di Bima hanya sepersekianpuluh dari pendapatan yang dia dapat sebagai awak kapal. Kata dia, “Yaaa, jadi awak kapal juga masih ada unsur olahraganya Mbak, renang”. Lalu aku speechless. Obrolan kami terhenti saat dia dipanggil kembali ke kapal.

Dan hanya inilah highlight hari ini, karena sebenarnya masih ada trekking cari komodo lagi di Pulau Rinca, tapi berhubung aku kedatangan tamu, aku diam di pos saja sambil tidur. Untungnya waktu itu tidak ada komodo yang iseng. Dan mungkin bauku tersamar oleh bau keringat turis yang lain. Mungkin. Tadi waktu di Pulau Komodo, PMS tidak kumat. Bisa-bisa aku ngajak berantem sama komodo.

Sore hari ketika sampai di hotel Labuan Bajo, aku terkapar karena siklus bulanan wanita. Dan tidak ada cerita di Labuan Bajo. 

Rabu, 02 November 2016

Note from Flores (2)

03-10-16

Jangan Lupakan Sejarah

Dude, pagi ini burung-burung sebelah berkicau lebih berisik dari kemarin sore. Sepertinya, mereka adalah burung walet. Kicauan mereka menjadi alarmku pagi ini.

Masih ada waktu 3 jam setelah sarapan sebelum berangkat menuju Pelabuhan Sape, dan aku tidak bisa diam di kamar. Jadi aku memutuskan berjalan-jalan ke sekitar hotel. Pukul 8 matahari sudah tinggi. Lumayan terik.

Aku menuju museum Asi Mbojo dekat dengan hotel. Letak museum dari hotel hanya dipisahkan oleh alun-alun. Di sisi selatan alun-alun terdapat patung kuda putih yang gagahKuda asal Bima sudah tersohor di nusantara sejak Indonesia masih terdiri dari kerajaan-kerajaan.



Untuk orang Jawa, nama museum ini pasti lucu, karena mbojo itu berarti pacaran. Tapi sebenarnya, asi berarti orang, dan Mbojo berarti suku Bima (cmiiw). Dong to?
Bangunan museum ini adalah bangunan baru. Bangunan aslinya ada di samping bangunan baru. Bentuk bangunan asli lebih sederhana, dindingnya terbuat dari kayu. Di samping kanan ada tiga rumah panggung mini. Kukira ini tempat buat leyeh-leyeh atau apalah, ternyata lumbung padi, gesss. Hehe.


Tampak depan
Seperti kebanyakan museum, banyak benda bersejarah yang disimpan, termasuk senjata dan perhiasan yang diletakkan di lemari kaca dan dibentengi dengan jeruji besi seperti di bui, baju adat, aksara-aksara Indonesia, Al-Quran yang ditulis ditahun 1700an dan dan silsilah raja-raja di Bima sejak awal berdiri sebagai kerajaan hindu, kerajaan Islam di tahun 1600an hingga sekarang. Yang selalu dibanggakan dari museum ini adalah kamar tidur di lantai dua di mana Bung Karno pernah menginap di tahun 1950. Ngomong-ngomong, sultan Bima yang sekarang masih muda baru dilantik beberapa bulan yang lalu, usianya baru 20an, dan sedang menyelesaikan kuliah di Bandung. Ah, aku lupa lagi namanya siapa.


Kamar Bung Karno
Kesultanan Bima punya bendera sendiri yang berbentuk persegi panjang. Kainnya sudah lusuh, warnanya pudar, sedikit robek di salah satu sisinya. Terdapat burung garuda berkepala dua sebagai symbol kesultanan. Aku sempat bertanya, kenapa burungnya berkepala dua dan menoleh ke kanan dan ke kiri. Alasannya adalah karena kesultanan Bima berasaskan hukum adat dan hukum islam. Dua hukum ini sama derajatnya. Jadi, lambang Indonesia sama lambang Kesultanan Bima duluan mana, hayo?

Sebenarnya kalau dibahas sejarahnya dari A sampai Z pasti panjang, karena Kerajaan Bima adalah salah satu kerajaan terbesar di Indonesia timur. Dan aku harus segera kembali ke hotel. Jadi anggap saja ini spoiler, lebih lengkapnya, pasti di google banyak. Hehe.

***

Perjalanan Dimulai

Kamu tahu aku sering mabuk setiap kali aku ada di dalam sebuah ruangan yang beroda (tukang mabuk kok nyamar jadi turis), jadi aku memilih duduk di depan, belakang sopir yang handal, Mas Didik. Jalanan panjang dan berliku sudah jadi makanan sehari-hari dia, selain nasi tentunya.


Kalau aku bisa lancar kirim pesan melalui Whatsapp selama di sini (NTB & NTT) dan sinyal provider Telk*msel lancar, kamu harus berterima kasih padanya (salah satunya).

Mas Didik, the Pro

Seusai makan tadi malam, aku hengot dengannya di gazebo dan dia bercerita bahwa 16 tahun lalu dia memulai karirnya sebagai driver truk di Lombok. Beberapa tahun lalu dia mendapat tawaran dari seorang teman sejawatnya untuk membawa potongan besi-besi bakal tower menuju timur hingga pulau Sumba. Dari beberapa orang yang ditawari, hanya dia yang bernyali karena beban truk yang dahsyat melalui jalanan beraspal yang rusak dan menyerupai jalan macadam atau bahkan belum diaspal. Lalu aku merasa bangga karena jalanan di Purwodadi saja masih kalah jelek. Dia bilang bahwa sejak dua tahun yang lalu jalanan sudah mulai diperbaiki lagi.

Perjalanan dari Bima ke pelabuhan Sape memang sungguh luar biasa, bukan karena pemandangannya, tapi karena jalannya yang berliku, naik turun, dan kanan kiri jurang. Kali ini sempat hujan dan melewati bukit yang longsor. Salah perhitungan sedikit saja, hmmmm, sudahlah. Pak Ardi, tour leader, bilang bahwa jurangnya itu sedalam lagu Indonesia Raya yang diputar selama 4 kali. Siapa yang mau membuktikan? Aku sih no.

Tapi kami sempat berhenti di jalanan di atas jurang. Photo stop, untuk mencegah duduk berkepanjangan yang bisa menyebabkan ambeien.

Dari atas jurang
Aku baru tau kalau Bima itu juga penghasil bawang merah
dan hasilnya dikirim ke Jawa
Ternyata orang sini mempekerjakan expat juga.

***

Hidup di Atas Kapal

Terakhir kali aku berada di kapal lebih dari 12 jam sewaktu menyeberang dari Baubau, Buton ke Wakatobi di tahun 2013. Saat itu aku tidur di atas dek dengan matras berhimpitan dengan kardus belanjaan orang-orang local sana. Tapi, kali ini lebih baik. Setidaknya kapal ini khusus untuk wisatawan. Ada kabin dengan kasur single/double, ditutup dengan seprei, dan lengkap dengan bantal dan selimut yang layak. AC pun ada, tapi tidak untuk dinyalakan. Bukan sebagai hiasan, hanya rombongan ini rombongan hemat, beb. Lagipula, kalau cabin dingin, aku akan menyelinap ke kabin awak kapal juga tidak bisa tidur.


Gunung Sangeang sedang merokok
Setelah berkenalan dengan Ibu pemilik kapal dan bapak kapten dan briefing sebentar untuk menjelaskan rute perjalanan, makan siang siap. Kamu tahu, makanan di kapal lebih mewah dari menu sarapan di hotel tadi pagi. Menu empat sehat, lima sempurna kalau bawa susu sendiri. *sounds wrong ya* Biarin sih.



Dari Pelabuhan Sape, kapal langsung menuju Pink Beach selama 5 jam. Air lautnya tenang. Selama kapal berlayar, yang terlihat hanyalah laut yang luas. Pulau-pulau yang berbukit terlihat berjejer-jejer dan bertumpuk-tumpuk menutupi satu dan yang lainnya. Semakin mendekati Pink Beach, pulau-pulau yang tadinya terlihat samar mulai nampak jelas. Bukit-bukit itu ditutupi rumput yang mulai menguning karena perubahan musim. Langit di belakang kapal berubah menjadi jingga. Matahari sore tertutup awan tipis.



Setibanya di depan Pink Beach, hari sudah gelap, kapal berhenti dan kami bermalam di atas kapal. Bulan sabit yang tadinya berada di ujung barat mulai menghilang. Beruntung malam itu sangat cerah, bintang-bintang seperti asal disebar di langit seketika lampu kapal dimatikan. Maaf ya, ndak bisa foto bintangnya, kapalnya goyang, je. Percuma juga kalau waktu itu tripod-nya jadi kubawa. Kalau kamu pernah ke planetarium, ya seperti itulah. Hanya saja bedanya di sini, di atas laut, kanan, kiri, dan depan adalah pantai, aroma laut, dan angin laut.

Bayangkan saja, tidur berbaring telentang, mata memandang ke atas dengan pemadangan langit penuh bintang, sesekali ada bintang jatuh. Romantis nggak sih? And it’s just effortlessly beautiful. Sayangnya bukan sebelahan sama kamu. Hehe. Jadi, aku memutuskan untuk tidur di atas dek dengan matras. Makin lama selimut dan kasur terasa lengket, padahal aku tidak berkeringat. *Mau keringetan ngapain coba?* Sepertinya sih karena air garam. Akhirnya aku tidur di kabin, walaupun justru di situ yang buat keringetan.

(bersambung ke Komodo esok hari)

Minggu, 30 Oktober 2016

Note from Flores (1)

02-10-16

Dear My Dude,

Ini adalah perjalanan yang disponsori oleh kantor. Aku dipaksa dianjurkan untuk memilih salah satu pulau selain Jawa dan Bali. Flores menjadi pilihan pertama. Dan dikabulkan untuk 9 hari melintasi Flores dimulai dari Kota Bima.  

Sekarang aku sudah sampai di Bima. Sungguh mendebarkan, semendebarkan waktu aku harus bilang “iya” ke kamu malam itu. Ihik. Beda ding. Kali ini semacam senam kardio, buat jantung sehat. 

Satu jam di dalam pesawat, headset kupasang, aku memandang keluar jendela -syukurlah aku bisa duduk di dekat jendela-, sambil menikmati pemandangan pulau-pulau kecil. *Pura-pura jadi model video klip lagu sendu seneng duit*. Dari atas, tanah Sumbawa terlihat gersang dibalut pasir putih di tepiannya. Semakin ke timur, lereng-lereng bukit seperti garis pada tanah. Saat pesawat terbang rendah, terlihat atap rumah penduduk warna-warni berdampingan dengan hamparan sawah. Tiba-tiba pesawat mulai bergoyang, bukan karena dangdut, tapi karena hujan. Aku yang sedari tadi bergumam bernyanyi, tiba-tiba terdiam, tanganku mencengkeram lengan kursi, namun tetap berpura-pura santai. Pesawat mendarat dengan tidak mulus, tapi syukurlah mendarat dengan selamat.


Ingin rasanya aku sujud syukur di bandara, tapi aku malu. 
Jadi aku hanya berfoto di depan papan nama bandara,
Sultan M. Salahuddin Bima

Setibanya di bandara, kami disambut gerimis tipis. Jalan utama dari bandara ke hotel di pusat kota melewati pesisir pantai. Tak banyak yang bisa dilakukan di Bima. Kotanya kecil. Aku menginap di hotel tengah kota, dekat pasar. Tapi tidak seramai pasar Beringharjo. Lebih ramai kicauan burung tetangga sebelah hotel daripada orang-orang. Sore itu, kami berkenalan dengan rombongan tamu dari Belanda yang sampai selesai perjalanan akan bersama-sama. Ugh, so cute la.

Jangan harap akan ada hiburan malam di sini. Hotel saja harus dapat giliran padam listrik. Seperti desaku dulu belum ada listrik lalu heboh saat listrik masuk desa. Jalanan sepi. Di pinggir pantai, ada beberapa warung lesehan berjejer. Tempat duduk ditata untuk dua orang dengan satu meja kecil menghadap ke laut. Remang-remang karena hanya ada lampu jalan yang menerangi. Terlihat beberapa pasang pelanggan dalam kegelapan. Aih... *nyanyi jagalah hati*

(bersambung ke keesokan harinya)

Kamis, 17 Desember 2015

The Perks of Not Taking Pictures


Foto inspeksi hotel

Saya penggemar dunia fotografi. Saya suka memotret sesuatu di mana saja dengan kamera kualitas rendah atau kamera ponsel saja, bukan dengan kamera slr yang lensanya semacam termos air panas itu. Saya hanya menyukai bagaimana sesuatu terlihat cantik dan menarik ketika dipotret.


Namun saya bukan tipe seseorang yang menyukai kegiatan selfie. Saya lebih suka berkegiatan yang lebih berguna untuk masyarakat dan sekitarnya demi menyelamatkan hajat hidup orang banyak. Halah. Hehe. Mungkin iya, dulu saya suka selfie waktu saya awal memiliki hp kamera, walaupun dengan kamera kualitas vga, dilanjutkan dengan piksel yang agak lebih besar sedikit (frase nggak efektif banget ya).

Keinginan berfoto untuk mengabadikan sebuah kejadian atau tempat yang dikunjungi memang besar bagi semua orang, termasuk saya. Tapi akhir-akhir ini saya tidak merasakan hasrat ini. Beberapa minggu yang lalu, saya pergi traveling (tsah) ke Gili Trawangan, untuk acara kantor sih. Mihihi, yang penting temanya jalan-jalan. Apa yang biasanya dibawa orang waktu jalan-jalan? Kamera nomer satu, buat yang punya. Kalau nggak punya, ya powerbank, to keep the phone always ready steady go to take selfies.

Walaupun saya membawa serta kamera milik kantor, tapi sewaktu jalan menikmati suasana gili di sore hari, saya lebih memilih meninggalkannya di kamar hotel. Saya hanya menggunakannya untuk hotel inspection.

Menjelang matahari tenggelam, seluruh staff kantor diminta untuk dinner tepi pantai. Pantai depan hotel sudah dipenuhi orang untuk berfoto, sedangkan saya hanya duduk menikmati senja yang tersaji di depan mata sambil sedikit berbincang, - lebih tepatnya bercanda - dengan kolega (halah) dan lebih banyak mengunyah makanan (emang pada dasarnya rakus sih, hehe). Kalau ada kamera hendak memfoto ya tinggal senyum.

Pun saat kantor mengadakan pesta akhir tahun di sebuah restoran cantik bernuansa kebun yang instagramable, saya lebih suka mendengarkan pembawa acara, joget di bawah naungan music ajeb-ajeb tahun 80an, bercanda, atau makan lagi. Muehehe.


Saya memang suka jika semua momen itu terekam dalam foto dan membagikannya (memamerkan betapa menyenangkan sore/malam itu) di social media saya sendiri. Tapi saya selalu membutuhkan waktu untuk edit foto terlebih dulu sebelum mempostingnya, yang mana waktu yang bisa saya gunakan untuk
makan berbagi tawa dengan orang-orang di sekitar saya bisa terbuang.

Picture says louder than words. It is true indeed. But when a picture has gone, what else to tell other than what’s left on your memory?


Jadi saya lebih memilih to live the moment, rather than live the picture. Atau hanya karena saya ndak punya kamera bagus ya?! Wkwkwk 

Sabtu, 19 September 2015

Wanita




Waktu saya masih kecil, entah berapa tepatnya usia saya waktu itu, mungkin dibawah 10 tahun, simbah kakung saya dulu pernah berkata bahwa “wanita itu wani ditata” yang artinya berani untuk ditata. Beliau melanjutkan bahwa wanita harus berani untuk dikontrol segala perilakunya. Wanita harus mempunyai batasan terhadap setiap tindakannya.
Feminis jelas tidak akan setuju.
Memang kita mempunyai ketentuan tidak tertulis tentang wanita yang baik. Wanita yang baik adalah seorang yang lemah lembut, penyayang, teratur tutur perkataannya, dan semua yang dianggap baik. Wanita dianggap urakan bila tertawa terbahak-bahak di depan umum tanpa menutup mulutnya. Mereka dianggap tidak sopan bila ini, itu, inu, anu, yang tidak sesuai dengan norma yang ada. Apalagi melakukan hal-hal seperti minum alkohol, merokok, dan lain sebagainya.
Memang tidak ada yang salah sih dengan semua sifat budi luhur itu. Lha wong itu semua perbuatan terpuji yang berguna untuk kehidupan bermasyarakat kita yang komunal. Tapi mungkin terdengar tidak adil bila dibandingkan dengan laki-laki yang melakukan itu semua. Laki-laki tidak akan dianggap urakan bila tertawa tidak menutup mulutnya. Justru malah mungkin dianggap lelaki lembek jika melakukan sebaliknya. Ya ndak sih?
Setiap tindakan yang diambil oleh wanita seolah-olah terbatasi, ndak boleh sak enake udele dewe.
Sedikit melebar, tak hanya ditata, wanita juga dipilih, dikejar dan menunggu, dan memberi jawaban. Contohnya, dalam kehidupan percintaan antar manusia. Apakah mereka tidak berhak memilih, mengejar, mengajukan pertanyaan. Dengan sudah adanya persamaan hak yang diperjuangkan para feminis, mungkin tidak perlu dipertanyakan lagi. Masalahnya adalah, pola pikir kita sudah terlanjur terbentuk bahwa wanita tidak boleh mendahului laki-laki. Mereka harus menunggu. Mengejar akan dicap agresif. Wanita agresif juga dianggap tidak baik. Ya ndak? Kalau isu yang ini, pola pikir saya juga masih begini sih.
So, where should I stand? Entahlah, saya masih di tengah-tengah. Berusaha menjadi manusia yang baik dulu lah saya. Memperlakukan orang dengan baik karena saya juga ingin diperlakukan dengan baik oleh orang lain. 

Sabtu, 11 Juli 2015

A New Way in Having Fun

Time flies when we're having fun

In February, I left my previous city, Surakarta and moved to another one, Yogyakarta for my new employment. These cities and everything in it; the people, the culture, the atmosphere, and rhythm of life are alike, so I don't need to adapt all the way of living.

Before my best friend/co worker/house mate/partner in crime found a fully furnished house and rent it for us, we lived in a boring boarding house that we had to be back before 9 pm, and that we couldn't stand any longer than a month. Our recent house is in a tight and quiet neighborhood. Yet it is noisy as well (because of us singing and laughing so hard while our door are open).

We were on this one point that we didn't know what to do together to any further extent. We work in the same office, we live in the same house, we have small side business together, we hang out together, we even think about the same thing at the same time and we know it just by a blink of an eye without even saying a word. And thank god, we don't have the same man to date with. Bored. Yes, we were.

Because she's a crazy fan and a member of Couchsurfing, a travellers community around the world, she came up with an idea to open our lovely house for hosting travellers. I couldn't agree more even though I was not a member of it yet. Well, I've knowing it for quite a long. I even met her on one of its meeting in 2011. Still, for several years I've been hanging out with many people from CS, I didn't sign up yet.

We have a living room, an open space kitchen, two rooms and two bathroom which are already more than perfect for two of us. We thought we can spare a room for more person to live with for several days.

We started hosting travellers since the beginning of March, as our house was already clean and neat to live in. Yes. It was horribly dirty, messy and ratty because it was abandoned for a year.

During my (she had it long before me) first experience, I had this expertise on awkwardness. They were strangers and it's a big effort for me to open a conversation since I had to think twice of what to say and how to say. *giggle*. Yet, it also challenged me to speak because my spoken English is barely perfect, kind of broken here and there, and unlike my house mate who was born and raised with it and even British accent so smoothly.

Every time I hosted some travellers, they told me to sign up. It was my house mate who had had enough of the request for me to sign up. Then, in the beginning of June, she made an account for me and filled it a bit. I was officially a member of this huge travellers community. Hehe.

Once, we had an awful couple that made us pause to welcome any traveller at our house. But hey, it made us bored even more. We could opt them out. She always asks me when someone requests a stay.

Some people use CS as a way to get a free accommodation during their travels. Nah, I don't like those detected free-loader. Her neither. There ain't no such thing as free lunch. It's not with the money they to pay, but time to share with us.

I and my house mate usually take them to places we love to hang out to eat, drink or merely spend a pointless sleepless night. It could be having dinner in food stalls, sipping a cup of coffee in a coffee shop, drinking beers in a bar, smoking shisha in a pub, strolling along the city square, getting wild at a karaoke room, cooking one's specialties in our kitchen, or listening to each other's stories while sitting on our couch. We try having super fun everywhere and create great moment of new friendship from being total strangers.

I can take a silver lining from this stuff. It's a medium for me to meet people with different cultures and practice how to hang out with people and build friendship with those strangers. And I am so far so good with it. We write our stories about the people we hosted here as well.

For me, I'm having my time with a hard fun before I meet my future husband. *dance*

P.S. CS has been existing for so long. And I know it's a bit late to join and write about it, but it's better than no have fun at all, no? *sing*

Kamis, 26 Maret 2015

Kerja




“Pagi ini kita ngapain?” tanya saya kepada teman sekantor.
“Fesbukan ae”, balasnya.
“Halah”

Dialog seperti itu sering saya lontarkan akhir-akhir ini. Selain karena tugas untuk bulan ini sudah terselesaikan semua, bagian operasional bilang memang sedang tidak ramai bookingan. Alhasil, kami banyak melongo di kantor.

Bekerja di bidang pariwisata memang layaknya petani. Ada kalanya musim tanam, ada kalanya musim panen. Bulan ini harusnya masuk masa tanam untuk para wisatawan yang booking untuk masa panen di musim panas pertengahan tahun untuk belahan bumi yang lain.

Harusnya juga, masa tanam yang kosong dan lama ini saya bisa memupuk otak saya yang mulai kering dan meranggas. Tapi nampaknya memang saya bukan tipe orang yang penuh dengan ide kreatif dan inovatif. Saya lebih suka menunggu perintah dari Pak Bos.

Bukan merupakan sebuah pembenaran, tetapi yang namanya tipe manusia kan ada banyak. Terlebih untuk pekerjaan. Tidaklah mungkin semua orang mempunyai kompetensi untuk memimpin. Tidak semua orang memiliki kompetensi untuk membuat ide marketing. Sudah ada bagiannya sendiri-sendiri lah. Kalau kata temen saya yang Londo, "don't be so hard on yourself".

Tapi juga itu merupakan pilihan sih.  Yang jelas saya mau ngerjain pekerjaan saya saat ini, mikir kerjaan saya yang lagi nggak ada kerjaan. Muehehe. Mangap Pak Bos.