Jumat, 29 Agustus 2014

On Bidding Goodbye



Dear Diary,

Last night I was invited to one of my foreign friends’ farewell party. I came with some local friends. 

As I enter the gate of the house, I saw some people barbequing fish. I shook their hands in the midst of the smoke. While coughing, I tried to smile to everyone. 

He who invited me was standing at the doorway. He was in a white T-shirt and green chino short pants. I waved my hand and approached him. A little hugs and shake hands, I went into the white painted house.

I looked everyone looking good. Most of them are students from around the world. It was a party of all races. The smells of the food being cooked welcome me. I put my cokes in the table where some of countries’ specialties brought by everyone are put as well. It is different to my culture where the host serves all the food and beverages. Yet, this is where the good at. I can taste Thai food, Chinese, Italian, Arabian, and Indonesian food as well for free. :D

I only knew some guests. Some I just met. I made friends with the rest. Yes. I just met them for bidding goodbye. The sad thing about knowing them just in time they would go back to their home country is that we met fun persons only once, no any other time for hanging out, cooking food together, and knowing them better. And I wondered why. But the good thing is that sad feeling about losing friend is not too deep. 

The rest of the night was just spent for chatting, joking, and singing with a guitar. I was more interested to make joke, instead of making serious convo. It was full of laugh – mostly mine, I mean I was the one with loud and uncontrollable laugh. Well, at least I could share the laughter and memories of a hilarious farewell party. 

“There is no real goodbye”, as one of the guests made speech. Indeed, goodbye is only losing the presence. People are still connected through any means. Yea, but first, lemme take a selfie, oh no, wefie. *posted it on facebook*




Rabu, 16 Juli 2014

Berjumpa Payung Teduh

Sorak sorai penonton bergemuruh saat Is, Comi, Cito, dan Ivan memasuki panggung satu persatu. Terdengar kian keras saat Ivan memetik ukulele memulai intro lagu “Angin Pujaan Hati”. Tanpa perlu komando, penonton ikut bernyanyi bersama Is, sang vokalis. Tak jarang dia melemparkan mic ke arah penonton, seketika itu juga suara penonton makin bergema. Lagu pertama dalam bingkai Diorama Senja, Payung Teduh menyeluruh ruangan GOR Manahan Solo.

Malam itu di pertengahan bulan Juni, Is yang mengenakan blouse hitam dan celana ketat berwarna cerah dengan rambut gondrongnya yang diikat, bernyanyi dengan mengalungkan gitar akustiknya di pundaknya. Dengan penuh penghayatan, Comi sesekali memejamkan mata saat memetik bassnya. Tepuk tangan dan siul penonton riuh saat melodi bassnya mengisi interlude lagu. Ivan terlihat duduk santai di kursi kecil sambil memegang ukulele di depan dadanya. Mengiringi suara Is, Ivan mengambil suara dua. Dentuman lembut drum Cito melengkapi gelaran konser malam itu.
Dari tempat saya duduk
Band indie asal Jakarta ini, membuat GOR Manahan Solo memanas. Sementara di luar, hujan jatuh mengguyur seluruh kota. Saya duduk di tribun yang berhadap-hadapan dengan panggung. Badan saya yang basah karena kehujanan saat menuju venue, tidak kian mengering, justru bercampur keringat. Seperti penonton yang berdiri persis di depan panggung, kami yang di tribun duduk rapat-rapat tanpa jarak. Ruangan benar-benar penuh oleh para penikmat musik mereka. Tak hentinya saya mengelap keringat.

Saat “Resah” dimainkan, tidak ada penonton yang tidak bernyanyi. Terlihat dari screen di samping panggung, sebagian dari mereka menghayati melebihi sang vokalis sendiri. Mereka seperti terbuai dalam lirik-lirik puitik dan romantis namun tidak picisan.

Lirik dalam tiap lagunya selalu membawa unsur alam. Udara, angin, langit, bulan, matahari, laut, gunung, pohon. Bahkan beberapa lagu tidak hanya menjadikan alam sebagai penghias di antara cerita cinta, rindu, dan lara, namun juga sebagai pemeran utama dalam melankolinya seperti dalam lagu Cerita Tentang Gunung dan Laut.

Petikan gitar, bass, dan ukulele berpadu dengan gebukan drum dalam melodi membuat aliran musik yang memanjakan telinga. Bagi saya yang awam musik, tidak perlu ada mendengarkan liriknya untuk bisa larut dalam imaji yang ditimbulkan dari alunannya. Tapi, suara lirih nan bass sang vokalis mampu membawa daya khayal kian hanyut.

Saya mengenal musik mereka dari radio lokal yang dahulunya sering memutar saat larut malam. Lalu, saya makin sering mendengar saat berada di coffee shop – coffee shop. Lagu mereka seolah sudah menjadi anthem untuk warung tongkrongan anak muda.

Saya menjadi fans-hampir-alay semalam. Seusai konser, saya segera berlari ke back stage untuk meminta foto bersama, — hal yang tak pernah saya lakukan sebelumnya. Tapi yang saya temui hanya Comi. Baiklah. Tak mengapa. Saya sempat mengulurkan tangan hendak berjabat tangan dengannya, tapi mungkin karena warna tangan saya nampak samar dalam gelap, saya rasa tidak dia lihat. Awkwaaaard. Setidaknya mimpi bertemu mereka di malam sebelumnya menjadi nyata. 
sebelum awkward moment

P.S: kesalahan bukan pada monitor/LCD atau mata anda, tetapi pada kamera hp saya yang beresolusi tiarap tanpa flash. Gambar juga telah melalui pencerahan berulang kali.

Sabtu, 12 Juli 2014

Bangkok dalam Jangkah Kaki

Mungkin hanya orang bodoh yang bersedia keliling kota yang luas dan panas dengan berjalan kaki seharian penuh. Dan mungkin kami bodoh.

Pukul 10.00 pagi di kota Bangkok. Pagi yang terlalu siang untuk berjalan kaki berkeliling kota Bangkok. Setelah mandi, sarapan dengan indomie yang kami niati bawa dari Indonesia dan sedikit touch up, saya dan 3 orang kawan ―selanjutnya disebut Yusuf, Reza dan Erwin― melihat peta wisata, berdiskusi, dan memutuskan untuk mengunjungi kuil-kuil dengan naik kapal menyusuri sungai Chao Phraya sebelumnya.

Kami tiba di port Central Pier untuk naik kapal menuju kawasan kuil. Guide menjelaskan apa yang terlihat di tepi kanan dan kiri sungai, namun entah karena angin kencang, sound microphone yang kurang keras atau telinga sayalah yang terganggu, saya tidak bisa mendengar apa yang dikatakan. Saya yakin usaha wisatawan lain untuk mendengar guide berbicara juga nihil. Mereka terlihat memicingkan mata dan berusaha fokus, tapi lalu sibuk dengan kamera masing-masing. Dari sekian banyak bangunan yang unik, yang saya kenali hanyalah Wat Arun, kuil di sebelah barat Chao Phraya.
 
Tongue-twister name #1, Wat Arunratchawararam Ratchaworamahavihara

Kami turun di port yang hanya 200 meter dari kuil Wat Po yang terkenal dengan Buddha raksasa yang sedang tiduran. Hanya Yusuf yang masuk. Karena sisanya, walau sebenarnya ingin, tapi memegang teguh komitmen dari awal bahwa tidak akan masuk ke obyek wisata yang tidak free entrance. Irit dan komit memang sulit dibedakan.
Tongue-twister name #2 
Wat Phra Chettuphon Wimon Mangkhlaram Ratchaworamahawihan
(Wat Po)

Kami membunuh kebosanan dengan melakukan kebodohan goyang bang jali dan goyang cesar. Saat itu kami tidak sadar bahwa pos satpam ada di seberang di mana kita bergoyang dan cctv di mana-mana. Berbarengan dengan Yusuf keluar, kita cukupkan sedikit malu itu dan melanjutkan perjalanan. #abaikanparagrafini

Kami tiba di kawasan Wat Phra Kaeo atau Grand Palace. Terik matahari memaksa kami menyerah penuh peluh. Bekal air mineral habis dan kami berhenti pada kios swalayan di antara kios souvenir yang berjejer. Saya, Erwin, dan Reza bergegas masuk membeli air. Glek! Suara air mineral kami telan membasahi kerongkongan kami yang kering. Dan, glek! Di saat itulah kami tidak menemukan Yusuf. Padahal perjalanan masih panjang. Kami celingak – celinguk kanan kiri. Tak kami temukan sosok Yusuf.
Tongue-twister name #3 Wat Phra Sri Rattana Satsadaram
Kami putuskan untuk masuk kuil, lebih tepatnya halaman kuil, dahulu hanya untuk sedikit berpose sembari mencari Yusuf. Saat kami keluar, Yusuf tak jua terlihat. Kami berpikir dua kali untuk menghubungi Yusuf melalui sms karena tarifnya yang beratus kali lipat. Sungguh keyakinan kami bahwa insting survival Yusuf sangat tinggi, maka kami berinisiatif untuk melanjutkan perjalanan tanpa dia.

“Kita di sini” kata Reza sambil menunjuk peta wisata. Ya, kami berada di taman depan kuil. Ada kolam bundar dengan air mancur di tengahnya. Ratusan burung dara jinak berjalan dan beterbangan di sekitarnya. Taman ini bersih dari sampah, tapi banyak bercak kotoran burung. Di samping taman ini, terdapat lapangan luas dikelilingi trotoar yang lebar. Kanan dan kiri trotoar ditanami pohon dan dipasangi kursi taman. Saya bayangkan kesyahduannya saat menjelang senja. Hmmm…
Mau kasih makan burung harus bayar
bikin pengen maen gobak sodor nih!

Khaosan sepertinya hanya berjarak kurang lebih 1-2 km dari taman ini. Berjalan sambil ngobrol membuat perjalanan tidak (belum) terlalu terasa melelahkan. Menurut saya, Khaosan ini adalah Malioboro-nya Thailand. Tapi lebih dari Malioboro, di sini semua hal bisa menjadi barang komoditas, dari pakaian, bikini, tas, sandal, souvenir, makanan, bir, jasa pembuatan tattoo dan bahkan ID card palsu pun ada. Ini sangar!

Democracy Monument, landmark utama di titik nol Thailand pun kami lewati, sambil sesekali berhenti membeli makanan ringan [baca: babi bakar, tapi saya tidak] di pinggir jalan. 
but first, lemme take a selfie!

Salah satu ruas jalan yang beberapa bulan lalu sempat dijadikan lokasi untuk unjuk rasa masih tampak lengang. Hanya terlihat seorang kakek asyik bersepeda dan seorang pemuda ber-skateboard ria di antara bekas mobil terbakar dan tumpukan ban mobil. Kami juga masih melihat sisa unjuk rasa. Dua ruas jalan masih diblok, didirikan semacam tenda, dan terdapat pula toilet temporer. Saat kami melewatinya, ada seorang yang sedang pidato di mimbar. Sayang sekali kami tidak mengerti bahasa Thai dan tidak ada subtitle di jalan. #yakali
pasca demonstrasi, aman!

Semakin menjauh dari titik nol, kami memutuskan untuk melanjutkan berjalan kaki menuju stasiun BTS terdekat, Ratchadewi. Ya, kami tidak kembali naik kapal atau mencoba naik bus yang rutenya tertulis dalam tulisan Thai. Bersenjatakan peta wisata, kami susuri jalan hingga berganti sandal baru karena tali sandal lama saya putus. Beberapa kali kami berhenti dan beristirahat di depan toko yang tutup dan berjalan lagi.

Melewati jembatan, kami lihat ada pasar tradisional sepanjang jalan raya. Ha! Saatnya makan. Saya membeli somtam/yam mamuang (cmiiw) rujak buah mangga dan papaya a la Thailand yang pedas, asem, asin, dan manis dan dicampur dengan ikan teri krispi. Sedangkan dua lelaki ini memilih makan soup, Luden soup yang isinya ada sapi, babi, udang, ayam dan lain-lain. Di bagian pasar yang lain, saya melihat kerupuk sebesar wajan yang belakangan saya ketahui dari google adalah bernama Khao Kriap Waue dan terbuat dari ketan. Sebagai penggemar kerupuk, saya merasa berkewajiban untuk membelinya. Berbekal sapaan “swadee ka” dan berakhir “kob kun ka”, ―walaupun selanjutnya saya tak mengerti bahasa Thai dan ibu penjual tak mengerti bahasa Inggris, tapi dengan bahasa isyarat berhias senyuman―, komunikasi berjalan lancar. Sedangkan Erwin sebagai penggemar babi, merasa berada di surga kuliner babi.
rujak enak
Luden soup
aneka bentuk babi

Sepanjang perjalanan, kami masih menenteng kerupuk wajan dan memakannya sedikit sedikit. Sepertinya ini menarik perhatian orang yang melewati kami karena melihat kami dengan pandangan yang agak aneh. Ya, dari pengendara motor, penumpang bus, hingga polisi lalu lintas. Mungkin ada yang salah dengan kerupuknya, tapi biarlah. (Paragraf ini boleh diabaikan lagi)
Gak fokus ke Khao Kriap Waue nih!

Terlihat dari peta, stasiun BTS Ratchadewi tidak lagi jauh, hanya beberapa belokan. Kami perkirakan 1 km. Meleset! Kami berjalan hampir 2 km. Di jalan kami lihat banyak penjual mango sticky rice aka mangga ketan. Reza yang tak tahan hanya melihatnya, akhirnya membeli untuk dimakan nanti.

Siang menuju petang. Badan makin lusuh, muka makin kuyu. Betapa bahagia saat kami lihat tanda BTS dari kejauhan. Akhirnya penderitaan kaki kami segera berakhir. Seakan tidak kapok, saat naik BTS, bukannya kami pulang, tapi menuju stasiun BTS terjauh, Bangwa. Kami turun ke jalan di Bangwa. Tidak terlihat apapun yang menarik, kecuali beberapa gedung yang masih dalam proses pembangunan. Sepi, karena memang bukan kawasan wisata. Sambil makan mangga, dan memberi jeda untuk otot kaki, dua lelaki ini justru menggoda mbak-mbak yang sedang pulang kerja. Kami lebih mirip berandal gelandangan daripada turis. Mungkin kami lelah.

Saat itu, waktu masih menunjukkan pukul 7 malam. Mall masih buka dan jalur BTS pulang melewatinya. Sip! Kami masuk mall dan membeli beberapa potong kaos untuk oleh-oleh dengan penampilan tidak karuan. Beruntung, tidak disangka pengemis dan diusir. Huft.

Sesampainya di hotel, surga seolah berbentuk sebuah kasur. Kami memang lelah. Mendapat wifi, Reza iseng men-tracking rute jalan kaki siang tadi dengan google maps. Voila! Kami telah menempuh jarak lebih dari 8 km, belum termasuk menyeberang melalui jembatan penyeberangan yang panjang. Kami perkirakan total 10 km. Saya dan Erwin saling berpandangan dan mlongo lalu tertawa. Saya baru menyadari bahwa peta wisata yang kami bawa adalah tanpa skala. Bodoh!


Stupid decision makes stories, doesn’t it? Entah disengaja atau tidak, tidak ada salahnya untuk berpikir bodoh, karena justru itulah yang akan membuat kita bisa menertawai kebodohan kita sendiri dan belajar. Hehe.

Rabu, 18 Juni 2014

Surat Cinta untuk Singapura

Dear Singapura,

Apakah kamu pernah mendengar pepatah yang mengatakan bahwa rumput tetangga selalu terlihat lebih hijau? Aku amini itu. Tempatku indah, namun apa yang kamu miliki pun menarik.

Aku masih ingat ketika aku mengunjungimu pertama kali. Aku memandangmu takjub. Bak seorang model, kamu rapi, terpoles, berhias dengan perhiasan dan asesoris yang menawan dan cantik, kamu memesona.
bagus ya?


Kata orang, kamu dingin. Sepertinya aku agak menyetujui pendapat mereka. Di saat aku bertanya ke salah satu/dua orang lokalmu, aku merasa tidak diacuhkan. Mungkin mereka terbiasa dengan kehidupan yang terlalu mandiri, ― hmmm, lebih tepatnya individualis. Jangan kawatir, ada negasi di baliknya, karena di dalam dinginmu, aku bisa menemukan kehangatan dan keramahan.

Kamu tahu, saat aku keluar dari bandara setelah pesawat yang aku naiki landing dan mencoba mencari tahu untuk menuju hostel di malam hari, aku menatap bingung pada rute MRTmu. Betapa beruntung karena aku bertemu seseorang dari Indonesia bernama David yang sudah bertahun-tahun hidup bersamamu. Dia mau membantu, menunjukkan dan menemaniku sampai ke hostel, sembari menyiratkan pesan bahwa kamu bukanlah tempat yang menakutkan bagi seseorang untuk berjalan di jam yang larut.

Terlebih, ketika aku berjalan menelusuri tiap sudutmu sendirian, kamu membuatku bertemu dan berteman ―hingga sekarang― dengan turis Italia bernama Simone yang ramah dan begitu menyukai kopi. Dia lebih dulu mengenalmu daripada aku. Pun dia bersedia menjadi guide dadakan untukku agar mengenalmu lebih.
words from Simone

Aku jatuh cinta terhadapmu karena kamu menghargai dan memberi tempat yang nyaman untuk pejalan kaki sepertiku. Aku menemui banyak sekali trotoar yang sangat teduh. Aku sangat menikmati waktu duduk di bangku tamanmu yang hijau. Tidak seperti tempatku yang dengan sedikit taman dan trotoar dengan banyaknya perampas hak-hak pejalan kaki dan membiarkan kendaraan bermotor berkuasa.
trotoar dan taman

Bagaikan langit dan bumi. Kamu punya banyak gedung modern, canggih, menjulang tinggi, dan cantik nan unik yang tidak bisa kujumpai di tempatku. Aku tampak kampungan saat mencoba berpose untuk berfoto dengan patung singa Merlion yang menjadi iconmu. Banyak orang melihatku yang penuh kehebohan. Memang, tak serupa tempatku yang banyak rumah biasa dan sawah atau kebun. Bahkan, Jakarta yang di sini dibilang metropolitan pun tidak bisa menyamaimu. Namun aku tak bisa memilih untuk lebih menyukai salah satu, karena semua memiliki pesona tersendiri.
behind the scene-nya sampe disangka orang gendeng

Pun, kamu sangat terampil merawat diri. Kamu pandai menjaga apa yang kamu miliki. Segala yang berhubungan dengan sejarah dan budaya membuatmu tetap memiliki jati diri sebagai semacam melting pot. Aku iri padamu. Di sini, sebenarnya aku punya jauh lebih banyak daripada yang kamu punya, tetapi, ah, sudahlah.

Dalam gelapnya malam, kamu tidak lelap tertidur, justru semakin gempita, cantik, dan liar. Aku memang tidak dapat melihat taburan bintang, namun aku bisa melihat bagaimana kamu bersinar dengan pertunjukkan tarian lampu yang berwarna-warni di tempat terbuka. Aku yang tak pernah melihat hal seperti itu, berdecak kagum.
MBS di malam hari

Tapi, tahukah kamu bahwa aku sedikit keberatan dengan tingginya price tag untuk banyak hal ditempatmu. Tapi tidaklah mengapa. Mungkin itu membuatmu eksklusif dan membuat orang-orang dari tempatku merasa memiliki prestis tersendiri ketika sudah mengunjungimu.

Ah, kini sudah dua tahun sejak pertama kali aku melihatmu. Aku tidak tahu apakah ada lagi yang berubah darimu. Aku yakin kamu bertambah menarik. Seandainya aku mempunyai kesempatan, aku pasti akan menemuimu lagi. 


*Mungkin kamu sedang membaca suratku ini diiringi suara Ari Lasso yang menyanyikan Kangen-nya* #yakaliajasih

Minggu, 08 Juni 2014

Menembus Kabut, Menuju Stumbu

Saya bukanlah morning person. Tapi jika dijanjikan sebuah sunrise yang memukau, pendirian saya akan mudah goyah. Dan kali ini adalah bukit Punthuk Setumbu, Magelang. Siapa kuat hati menolak?

Pukul 4, sebelum azan subuh, saya dan teman-teman harus melawan gaya gravitasi yang ditimbulkan oleh kasur tipis yang kami tiduri selama 2 jam. Segera saja kami membasuh muka dan menggosok gigi untuk membangunkan indera-indera kami. Tak ada waktu untuk bongkar muatan perut, walaupun terasa slemat-slemet, kata orang Jawa.

Kami berangkat dari rumah kawan di desa Tanjung, Magelang, menembus jalanan kecil nan mulus. Kendaraan terus melaju menembus gelap dan kabut nan pekat. Kawan saya menunjukkan landmark di kanan kiri jalan, tapi sama sekali tak terlihat karena jarak pandang hanya sekitar 5 meter saja. “Pokoknya saya terima sampai di tempat parkir saja, Mas,” seru saya.

Di parkiran yang tidak terlalu luas, sudah terdapat 2 elf panjang dan beberapa mobil. Ternyata tidak sesepi yang saya duga, justru sudah terkesan touristy.

Sekitar 500 meter trekking ringan,akhirnya kami sampai di puncak bukit. Berhubung postur tubuh saya yang agak mini tapi juga agak lebar, saya harus berdiri di atas bale-bale bambu doraemon *itu baling-baling* agar pemandangan tidak terbingkai oleh kepala-kepala bule.

Dan pagi itu, Tuhan Yang Maha Baik memperbolehkan kami melihat keagunganNya melalui kemegahan sang matahari yang diam-diam mengintip di balik punggung Merbabu dan Merapi. Borobudur yang semula terselimut kabut, saat itu pelan-pelan tersingkap dan mulai terlihat jelas julangan puncak stupanya. Saat menoleh ke arah yang berlawanan, terlihat perbukitan karst Menoreh. Saya terpukau sambil menahan hasrat kebelet. (Sebenarnya ada satu toilet di lokasi, namun antreannya buat makin nggak nahan).


Merbabu - mentari - Merapi
Majestic Borobudur
hasil manjat bale-bale
the pros

Ada sebuah benda yang membuat saya bertanya-tanya di bukit ini. Adalah sebuah potongan batang pohon yang setinggi kurang lebih 1 meter dan di atasnya terdapat papan melintang. Benda ini seperti tempat untuk meletakkan sesuatu.

Pertanyaan saya itupun terjawab saat matahari merangkak naik. Tersangkanya di bawah ini. Hehe
Konon adalah Bp. Sulaiman

Tidak ada maksud apa-apa. Waktu saya ketahui bahwa si kakek duduk membawa sabit sambil menghisap rokok, saya yakin, tempat itu adalah spot si kakek untuk berpose untuk berfoto. Kakek ini yang sempat saya cari-cari, karena selalu masuk di blog bersama Punthuk Stumbu. Ternyata punya tempat spesial untuk berfoto. Bagaimana tidak dia dijadikan objek fotografi, lha wong wajah, pose dan postur tubuhnya sangat fotojenik. Sebenarnya saya jual mahal untuk tidak memotret si kakek, tapi kawan saya terus menyuruh saya membuktikan bahwa saya bisa memotret. *ya bisalah, tinggal pencet tonbol shutter, haha. Nurut ngana?*. Tentunya si kakek pun begitu sadar kamera.

Jadi, tidak hanya bentang alam yang menakjubkan yang bisa dijadikan objek foto, tetapi juga si kakek yang selalu siap sedia nongkrong dengan rokok dan sabitnya. Okesip! *melipir ke toilet*.

Sabtu, 07 Juni 2014

Dieng; Manusia, Sikunir, Cebongan, dan Sampah

Hari itu merupakan hari terakhir bulan kelima dan hari terlalu sore saat saya dan 4 orang teman lain memutuskan untuk melepas kopling dan menginjak gas mobil dari Magelang. Ini kali pertama saya pergi ke dataran tinggi Dieng.

Meninggalkan Magelang dan Temanggung, kami memasuki area Parakan dan udara makin dingin saat kami membuka kaca mobil. Syal langsung melingkar di leher, sweater membungkus badan dan kupluk menutup kepala saya.Dari Parakan menuju Dieng, kami mengandalkan GPS sebagai pembimbing. Kami melewati lereng Gunung Sindoro. Jalan makin menyempit, menanjak, dan tidak menunjukkan adanya kehidupan manusia di sekitaran. Kami mulai meragukan arahan GPS. Saat hati kami bimbang, GPS akhirnya berkata “sinyal GPS hilang”. Jika ada lubang di jalan, mungkin mesin GPS pun tahu.

Kami teruskan hingga akhirnya bertemu dengan beberapa orang untuk kami tanyai. Petunjuk baru didapat, perjalanan dilanjutkan. Makin naik, jalan makin berantakan. Mobil tipe city car kami tampak kepayahan, bukan karena jalanan menanjak dan rusak, tapi karena berat badan lima manusia di dalamnya. Jadilah, mobil goyang dalam artian sebenarnya. Sayangnya sinyal radiopun tidak terdeteksi, karena sebenarnya kami mau sempurnakan dengan dangdut. Di luar begitu gelap, hingga kami bisa melongo menyaksikan bimasakti dan bintang-bintang yang sangat jelas dan berserakan di langit. Pemandangan di kanan kirinya mungkin juga memesona di saat terang.

Setelah selama satu jam tersiksa di jalanan biadab itu, akhirnya kami tiba di homestay dengan gigi gemerutuk. Entah berapa suhu malam itu, menginjak karpet saja bak menginjak es. Buru-buru saya menyabet celana panjang yang sudah saya pakai untuk menembus semak belukar di pagi harinya dan memakai kaos kaki. Walaupun bagian tubuh yang sensitive dingin sudah tertutup, tetap saja masih membuat hidung saya tak berhenti mengalirkan cairan kental nan bening. Iya, ingus. Dalam beberapa menit, kami meminum kopi dingin, dan mencicip mendoan beku yang sebelumnya datang dalam keadaan panas. Kami tak bertahan lama berjalan-jalan di luar.

Itinerary kami standar saja, seperti wisatawan pada umumnya. Kami harus mendaki Sikunir untuk sebuah momen matahari terbit. Antrean untuk parkiran begitu panjang, maklum hari libur. Petugas parkir tak cekatan mengarahkan pengendara mobil untuk parkir. Huft.

Tak ada kendala naik menaiki Sikunir selama 30 menit. Tapi di saat tiba di spot-spot sunrise, saya justru seolah melihat pasar. Memang ada penjual dan ada pembeli dengan kopi panas, mie cup dan snack sebagai barang komoditasnya. Walaupun begitu, saya tetap bisa menikmati pemandangan saat semburat oranye mulai menyeruak dari langit timur, memudarkan siluet dan menampakkan tekstur Sumbing, Prau, Merapi, Merbabu yang di sisi kanan.
Photoception
Syahdan, syahdu terasa, sebelum semua orang berteriak dan bertepuk meriah saat sang pusat tata surya terlihat menyembul dari balik pegunungan. Dalam hati saya bertanya, apakah mereka tak pernah menyaksikan proses matahari terbit sebelumnya? Mungkin mereka orang kota, orang sibuk, orang kurang piknik. Hmmm..
Sunrise Sikunir 
Sikunir makin terang. Matahari mulai menyorot kuat. Orang-orang mulai berjalan turun. Saya melirik ada botol minuman sengaja ditinggal. Saya pungut dan masukkan ke kantong plastik. Semakin mata saya berkeliaran ke kanan dan kiri, makin terlihat banyak tissue, plastik snack, gelas mie instan, botol minuman lain, bungkus permen, dan ragam sampah lainnya. Saat saya mengambili sampah itu, banyak yang memandangi saya. Tetapi saya tak mau menafsirkan pandangan itu. Saya hanya berpikir mereka (yang membuang sampah) mempunyai pikiran yang terbalik. Saat naik membawa bekal makanan/minuman yang isinya masih utuh pastinya lebih berat dibanding saat sudah tersisa bungkus/botolnya saja. Tapi mereka tetap enggan membawa turun dan membuang di tempat yang semestinya. Sepanjang perjalanan saya turun, saya mengumpulkan dua kantong plastik sampah. Manusia! Saya tidak habis pikir jalan pikiran mereka.
Jalanan macet vroh
Tiba di kaki bukit, kami mencoba melihat telaga Cebongan. Wuih! Sudah banyak doom, -kata seorang temen, dulu sedikit. Dan sampah. Hehe. Sudahlah. Aku kudu piye?
Telaga Cebongan
Sampah dong!

Jumat, 06 Juni 2014

Tentrem yang Adem

Sebenernya saya tidak terlalu suka dengan es krim, tapi kenapa saya menulis tentang es krim? Karena, ya ingin saja.

Saya membolak-balikkan buku menu yang agak usang dan akhirnya memesan es krim berjudul Horn Keranjang, tiga scoop es krim rasa coklat, stroberi, dan leci, dengan garnish astor dan siraman coklat cair nan tipis. Saat suapan pertama masuk ke dalam mulut, rasa dan teksturnya berbeda dengan es krim – es krim merk sekarang, amat klasik. Rasa dan teksturnya justru mirip dengan es dung-dung jaman saya masih ingusan.


Mata saya tak henti mengamati ruangannya hanya sekitar 3 x 5 meter saja. Mungkin karena itu, desain interiornya dipenuhi dengan kaca agar terlihat luas. Hanya ada 2 meja di sisi kanan dan 2 di sisi kiri. Antar meja yang dipasangkan dengan kursi rotan, disekat oleh kisi dengan motif floral.

Penasaran apakah ada ruangan lain, saya pura-pura minta ijin ke toilet. “Ini lurus aja, nanti mentok, belok kiri ya, Mbak”, ujar mbak-mbak pramusaji seolah-olah jalurnya rumit dan jaraknya jauh – tapi untuk ukuran menuju toilet, ya jauh. Saat berjalan, saya melihat seorang bapak-bapak yang saya taksir adalah pemiliknya dan beberapa pegawainya yang sibuk menata es krim di kotak pendingin yang jumlahnya lebih dari sepuluh buah. Saya takjub, ternyata di dalamnya lebih luas.

Tidak hanya es krimnya saja yang klasik, namun arsitekturnya juga masih mempertahankan gaya lama. Pintu masuknya merupakan 2 buah pintu kaca geser yang masing-masing bergambar segelas es krim warna-warni yang warnanya kian pudar. Saat mata saya melongok ke atas, tertulis “sejak 1952, Es Krim Tentrem”. Enam puluh dua tahun, sodara, sodara. Seperlima usia saya saat ini *digebug scoop es krim*. Dan, bapak yang saya temui di dalam tadi, yang akhirnya saya ketahui bernama Sulaiman, merupakan generasi ketiga yang mengelola Tentrem.



Saat saya menikmati es krim, hanya ada sepasang ABG SMU (mungkin mereka anti mainstream, di saat ABG lain nongkrong di mall, mereka lebih memilih di es krim klasik). Yang saya herankan adalah walaupun pengunjung tidak banyak, tetapi produksinya seperti tetap massive, karena saya juga tidak tahu mereka terima pesanan atau tidak.

Ohya, letak es krim Tentrem ini di Jl. Urip Sumoharjo, Solo, di sisi sebelah barat. Mata harus jeli, karena pepohonan pembatas jalan cukup rimbun untuk  menghalangi pandangan.

NB:
Buat Pak Sulaiman, mungkin butuh peremajaan interior dengan mempertahankan keklasikannya Pak, biar lebih menarik. Plus, buku menunya juga ya, Pak.

Penampakan es krim lainnya nih 
pink panther
banana split